Shop My Favorites

Jalan-Jalan ke Yogya di era pandemi 2021

Sejak pandemi melanda dunia pada awal tahun 2020, gue dan banyak orang sudah tidak pernah liburan ke luar kota maupun ke luar negeri. Well, ...


Sejak pandemi melanda dunia pada awal tahun 2020, gue dan banyak orang sudah tidak pernah liburan ke luar kota maupun ke luar negeri. Well, duh! *rolls eyes* Akan tetapi pada akhirnya gue berkesempatan pergi ke Yogya Juni lalu setelah gue mendapatkan vaksin pertama.

Sore ini, tepat dua bulan kemudian. Sembari menyeruput segelas kopi latte di kamar tidur, gue baru tersadar kalau gue bahkan tidak memiliki satupun photo penginapan selama gue di Yogya. Padahal biasanya gue gak pernah absen untuk ambil gambar demi kepentingan blogging.  *facepalms*. 

Yogya kali ini seperti biasa membawa cerita dan juga cinta. Kota yang selalu gue daulat sebagai kota favorite gue ini, tidak dipungkiri selalu punya daya magisnya tersendiri. Tidak terlalu banyak itinerary yang dibuat kali ini. Konsep "kemanapun kaki melangkah" cocok menjadi tema jalan-jalan kali ini.


Hujan menyambut gue sesaat gue menapakkan kaki di kota Pelajar ini. *Deg* Kali pertama merasakan Yogya di saat musim penghujan. Syahdu melingkupi hati ini seketika. 

Sesampainya di hotel, gue mandi dan beristirahat meregangkan punggung dan kaki setelah 7 jam di dalam kereta. Saat perut tak lagi bisa diajak berkompromi, gue memutuskan untuk makan malam di Cengkir Restaurant. Restoran yang sudah tidak terhitung berapa kali gue sambangi setiap ke Yogya.


Menunya sederhana khas rumahan, tapi rasanya boleh diadu dengan restoran mahal di Jakarta. Suasananya juga yang selalu gue rindukan. Jauh dari hiruk pikuk dan bisingnya pusat kota Yogya, banyak sirkulasi udara karena tempatnya yang outdoor sungguh cocok dengan masa pandemi seperti sekarang.


Entah karena hujan yang mengguyur Yogya atau memang karena masih dalam masa pandemi. Cengkir yang biasanya selalu padat, malam itu agak sepi. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Waktu mengalir begitu cepat saat dihabiskan mengobrol dengan rekan liburan gue kali ini. Hangat. Sehangat dua gelas wedang uwuh dan kopi tubruk di atas meja kami.


_____
___
_
.



Tak sia-sia bangun jam 4 pagi menembus gelap dan dinginnya Yogya guna mendapatkan pemandangan seperti gambar di atas. Awalnya gue ingin ke Puncak Kebun Buah Mangunan yang berlokasi di Imogiri. Satu jam dari kota Yogya. Sesampainya di sana, lokasi tersebut tutup karena naiknya kasus Covid19 di Yogya. Gue pundung di dalam mobil kurang lebih sejam menatap ke pintu masuk kebun buah mangunan. Perlahan gelapnya lapangan parkir menjadi terang karena matahari mulai terbit. Sucks!

"It's time to go back to the hotel" pikir gue. Di jalan menuju kembali ke hotel, gue lihat tak kurang dari 200 meter dari mobil gue di parkir, ada spot photo-photo yang kalian bisa lihat di blog ini. Tak ayal senyum merekah di balik masker gue, "happyness just around the corner, if you allow it to happen", quotes yang selalu sahabat gue gembar-gemborkan akhir-akhir ini do really happen. 




Gue bahkan tidak ingat apa nama tempat ini, karena gue langsung keluar mobil dan belari membeli tiket masuk yang hanya 5000 rupiah. Dua jam gue habiskan di tempat ini sembari menghirup udara pagi pegunungan dan indahnya pemandangan di depan mata gue. 

Setelah itu, saatnya mencari sarapan sebelum kembali ke hotel. Pilihan gue jatoh kepada soto Ayam Pak Man Sagan atau lebih dikenal sebagai soto kuburan yang terkenal di kalangan warga lokal. 


Sotonya segar, kuahnya ringan tapi isiannya unik karena ada tempenya, harganya pun terjangkau. Setelah perut terisi oleh semangkuk soto ayam. Gue kembali ke hotel untuk tidur. Kantuk menghinggapi kami berdua karena bangun terlalu pagi untuk mengejar sunrise.



Sebelum memulai pergi keliling Yogya, gue menyambangi kedai kopi yang berlokasi dekat hotel terlebih dahulu. Tak disangka kopinya enak. Gue sampai balik lagi di hari yang sama selepas maghrib untuk membeli segelas lattenya. 

Karena lokasi berikutnya yang ingin gue sambangi lumayan jauh, gue putuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Pilihan kedua jatuh lagi kepada semangkuk soto. Suasana yogya yang dingin membuat kami ingin menyantap hidangan yang panas.

Soto Pak Soleh Albarokah menjadi destinasi yang gue pilih karena lokasinya yang searah dengan tempat wisata yang ingin gue kunjungi. Buat gue soto ini lebih enak dibanding soto ayam yang gue makan tadi pagi. Lebih masuk ke selera gue yang suka dominan rasa gurih.

Setelah itu, gue mengunjungi The lost World di Sleman. Pemandangan di sepanjang perjalanan yang dipenuhi rimbunnya pohon dan dibarengi oleh turunnya kabut membuat gue menepikan mobil dan mengambil photo. Tak banyak waktu yang gue habiskan di The Lost World. Pengunjungnya pun hanya empat orang. 




Sesampainya di kota yogya lagi, entah karena udaranya yang mendukung atau memang liburan menjadi ajang balas dendam untuk makan banyak. Gue finally mencoba makanan yang disukai oleh pecinta masakan pedas, yaitu oseng mercon bu Narti. Seketika perut gue langsung bergejolak dan memutuskan untuk kembali ke hotel sekalian beristirat sebelum nanti mencari makan malam.


Makan malam gue sebenarnya sudah tau mau kemana. Ke Yogya gak lengkap kalau gak menyambangi  bakmi djowo Mbah Gito yang sudah pernah gue tulis sebelumnya di blog gue tentang yogya di 2018 dan di 2019. Tetapi sampai di sana, ternyata sedang tutup. Gua suka banget bakmi kuahnya dan juga wedang uwuhnya.

Gue akhirnya mencari alternatif lainnya, yaitu bakmi kadin. Its just alright. I still think bakmi djowo Mbah Gito is the best :(

There is always be the next time, kan? hehehehe. 



_____
___
_
.

Hari ketiga dimulai dengan sarapan di  Nasi brongkos Handayani. Enak! Totally a rice stealer dish LOL. Gak sadar, nasi sepiring habis padahal masih jam 9 pagi.


Setelah itu, gue ke tempo gelato, karena gak lengkap liburan gue tanpa makan gelato ice cream :D Kenapa sih gelato di Yogya tuh affordable banget yet soooo effin' tasty?! Kenapa?!



Setelah itu gue mengunjungi keraton ratu boko. Terakhir gue kesini, jangan harap bisa mendapatkan photo aesthetic. Sekadar duduk untuk menikmati kota Yogya dari ketinggian saja tidak bisa. Tetapi kali ini, serasa gue yang memiliki keraton ini. Hanya ada enam wisatawan termasuk gue. 





Sepulangnya dari Keraton, gue mengunjungi sebuah kedai kopi atas rekomendasi teman-teman gue.  This girl really needs her coffee or else she would turned into another person :p



Setelah ngopi dan bertukar cerita di Coffee shop, gue masih memiliki waktu dua jam sebelum kereta malam mengantarkan gue kembali ke Jakarta dan keruwetannya. Berhubung di kereta nanti gue gak akan mau buka masker sama sekali, gue memutuskan makan malam di House of Raminten. Classic me, aight? 



Trip ke Yogya kali ini mungkin menjadi salah satu trip Yogya terfavorit gue sepanjang masa for numerous reasons. It was special in my heart. It forever will be. 

See you, again ya Yogya.

photo sign_zpsqaqyukse.png

You Might Also Like

0 comments